Senin, 16 Mei 2011

4 Kiat Memulihkan Keluarga Yang Hancur

Setiap manusia mempunyai sebuah impian. Namun impian yang terkandung di dalam orang tersebut membutuhkan waktu untuk digenapi. Periode antara menerima impian dan kapan impian digenapi membutuhkan proses, yang harus melewati masa-masa sukar dan sulit, bahkan penuh dengan kejutan-kejutan. Dalam menghadapi proses ini, kita selalu mengalami hari yang baik maupun buruk dengan sebuah dilema: apakah kita akan menyerah atau tetap maju. Pilihan ada di tangan kita.

Begitu pula dengan berbagai masalah yang dihadapi keluarga Kristen. Impian mereka sebelum menikah ternyata hancur disebabkan oleh perselingkuhan atau tidak adanya tanggung jawab dari salah satu pihak. Jika ini dibiarkan terus, maka masalah tidak kunjung selesai dan berakhir dengan kehancuran total. Memang setiap keluarga mempunyai masalah yang unik dan tidak sama, namun saya memberikan 4 kiat umum untuk menjadi jawaban terhadap masalah tersebut.


1 LIHATLAH AKAR MASALAH YANG ADA DI DALAM DIRI KITA.

Kita sering melihat masalah terletak pada orang lain dan bukan pada diri kita sendiri. Jangan berkata, “Saya mengalami masalah seperti ini karena suami atau isteri saya yang menjadi penyebabnya.” Padahal bukan suami atau isteri yang menjadi penyebab masalah, tetapi diri kita adalah penyebabnya. Suami atau isteri hanya menjadi pemicu dari masalah yang ada di dalam diri kita. Sebagai contoh: Jika Anda minum air dingin (air es) dan gigi Anda berlubang, maka air es menjadi pemicu bagi gigi Anda sakit. Bukan air dingin yang menyebabkan sakit, tapi hanya menjadi pemicu untuk gigi Anda sakit. Hal yang sama terjadi pada hubungan suami-isteri. Mungkin suami atau isteri hanya menjadi pemicu terjadinya konflik, tetapi masalah yang sebenar¬nya adalah diri sendiri. Mengapa Anda marah? Karena pasangan Anda meng¬usik Anda. Ada tertulis : “Kasihilah orang lain seperti dirimu sendiri.” Jika kita marah pada orang lain, berarti kita suka marah pada diri kita ¬sendiri. Orang yang membenci orang lain adalah orang yang suka membenci dirinya sendiri (Rom. 14:4).



2 KITA HARUS MEMILIH RESPONS YANG BENAR.

Bukan benar atau salah, tetapi res¬pons kita terhadap masalah yang ada. Jangan menyalahkan orang lain. Kecenderungan kita adalah menyalahkan orang lain. Kita ingin mengubah hidup orang lain, padahal diri kita sendiri tidak mau diubah. Hanya Tuhan yang bisa mengubah hidup orang lain, tetapi kita harus memilih untuk berubah. ¬Ja¬ngan berdoa, “Tuhan, ubahlah suami atau isteri saya.” Mengapa kita tidak berdoa seperti ini, “Tuhan, ubahlah hidup saya.”



3 KITA HARUS MEMILIH UNTUK BERTANGGUNG JAWAB.

Bertanggung jawab artinya kita harus datang pada seorang konselor untuk dikonseling. Jikalau Anda harus membaca, ya bacalah buku-buku. Belajarlah untuk bertanggung jawab dengan hidup Anda sendiri. Jika Anda mau ikut seminar pria sejati atau wanita bijak, ikutlah. Mengapa? Karena Anda akan belajar untuk bertanggu¬ng jawab atas diri Anda sendiri.



4 KITA HARUS BELAJAR MENGULANG SESUATU SAMPAI MENJADI KEBIASAAN.

Sebab sekalipun Anda telah menjalani ketiga tips di atas, tetapi jika Anda tidak belajar untuk mengulangnya kembali Anda tidak akan pernah berubah. Seandainya suami atau isteri Anda belum berubah, maka Anda sudah berubah duluan. Hal ini akan membuat Anda hidup bahagia. Mengapa? Karena suami atau isteri Anda akan berurusan dengan Tuhan. Kalau hidup kita berubah, maka mereka juga akan berubah. Tetapi jika dia tidak berubah, kita tidak akan mengalami kehancuran karena hidup kita sudah berubah sesuai kehendak Tuhan.



Ir. Eddy Leo, M.Th
Penatua Abbalove Ministries
Fasilitator Christian Men Network Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...